Tak Terlupakan! Pertama Kali Keluar dari Zona Nyaman


Punya pengalaman tak terlupakan?
Saya juga. Jatuh bangun saya manjalani hidup ini, banyak pergolakan di dalam diri saya ini. Hingga suatu ketika seorang guru memotivasi siswanya untuk membenahi diri agar tidak terlalu nyaman dengan zona ena-enak.

Tepat SMA, pertama kali saya melakukan penelitian dan menyusun sebuah karya ilmiah. Dibimbing dengan master di bidang sosial, guruku tampil keren dihadapan siswanya. Tugas untuk memenuhi mata pelajaran penelitian sosial, tak kusangka dapat lebih dari sekedar tugas. Sedikit kurang percaya diri, saya ikut sertkan karya pertama saya itu ke dalam Lomba kepenulisan. Allah berkata lain, ketika hatiku tak berharap lolos dan ternyata Allah memberikan lebih.

Bingung, kala itu.

Saya yang tak pandai berbicara di depan orang banyak, diharuskan untuk melakukan presentasi dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Nasional di Surabaya kampus UNAIR. Berlatihlah saya, bersama pembimbing yang sangat sabar menghadapi seorang introvert takut ngomong seperti saya ini. Rutin setiap minggu saya latihan, banyak koreksi sana-sini, bahkan hampir di setiap selesai latihan saya selalu menangis, mengeluh karena tak pandai menjawab pertanyaan beliau. Tidak hanya itu, gaya presentasi saya turut dikomentar bahwa saya seperti mendongeng bukan presentasi.
Banyak pelajaran yang saya peroleh dari skenario yang Allah susun tersebut. Saya merasa sangat beruntung bertemu dengan Pak Tino (guru Sosiologi saya) selalu memotivasi saya untuk terus maju.
Hingga tibalah hari pelaksanaan.

Pertama kali saya naik kapal terbang (baca:pesawat) ujar orang kampung semacam saya. Oiya dulu lomba ini bertepatan saat maraknya kabut asap di Palembang. Beberapa pesawat di delay, termasuk pesawat yang kami tumpangi. Tidak apalah menunggu lama yang penting saya selamat sampai tujuan.

Kala itu, saya juga dituntut untuk menjadi seorang sales karena sistem lomba kami mirip seperti orang menawarkan produk di stand (bazar).

Pak Tino benar, ketika saya keluar dari zona nyaman dan bertemu banyak orang membuat saya kagum serta terkesima bahwa yang saya tahu hanya sebagian kecil dari keseluruhan yang mereka pelajari terutama siswa dari Pulau Jawa.

Stand tempat saya menampilkan poster bersebelahan dengan orang jogja dan satunya lagi orang kupang. Sama-sama beragama Katolik, sedangkan saya Islam. Dulu saya sempat disangka keturunan cina karena mata yang sipit ini hehe. Sakit sih ketika saya mengambil mukena dan ingin beranjak menunaikan ibadah, teman saya yang jogja itu malah heran dan malah menunjuk seraya mengisyaratkan "Kamu Islam?".

Ada pengalaman pahit juga ketika saya mengikuti ajang tersebut. Tanpa pikir panjang sebulan sepulang lomba saya langsung mengenakan hijab. Alhamdulillah semoga istiqomah sampe ajal menjemput.
Begitu panjang dan kompleks pengalaman saat itu, tak terlupakan.

Tertanda,
Dari seorang murid yang ketika ditanya "Mau Makan Apa?" Malah melemparkan senyum😊

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel