Kenangan Manis dari Kota Surabaya


Setelah hampir satu bulan lebih lamanya aku hiatus (baca: berhenti sejenak) dari dunia blogging, saatnya kembali mengintip situs web yang hampir usang ini.

Senyum manis menyapamu, hallo SobatKus!!

Jadi ceritanya kemaren saya menghilang karena beberapa sebab (ya iyalah hehe). Ngapain aja? banyak deh pokoknya, dari proyek mata kuliah sistem informasi akuntansi yang menguras emosi, persiapan lomba sekaligus temu ilmiah nasional, proyek lomba sisip-sisipan, hingga ulangan akhir semester yang hampir tak karuan.

Lho, kok malah curhat? Emangnya ini blog curhat yah, duh lupa saya dengan tujuan awal bikin website Kuskus Pintar. 
Maaf nih yah untuk pemirsa website semi-semi blog Kuskus Pintar, kali ini ijin untuk berbagi pengalaman saya pada saat ikutan Temu Ilmiah Nasional di Universitas Airlangga, Surabaya. 
Yeay horee...

Ceritanya mau kayak story telling atau mau dinarasiin nih?
----diam sejenak---- 
Yaudah suka-suka penulis aja deh bagaimana nyampeinnya hehe.

Oke, berikut ini ceritanya. Selamat menyantap.

Kenangan Manis dari Kota Surabaya


Temu Ilmiah


12 April 2019. 

 

Pagi, pukul 4 dini hari aku terbangun diantara resahnya hati dan pikiran. Setelah semalam lelah akibat packing persiapan keberangkatan, akhirnya tiba juga hari-Hnya. Bergegas bangun dan mempersiapkan diri.

Pukul 6 pagi, bersama rombongan kami berkumpul di area yang sudah disepakati dan siap melaju ke Bandara.

Malang dikata, pesawat yang seharusnya berangkat jam 11 ternyata dari pihak maskapai menunda hingga jam 14.30 (sepertinya segitu lupa deh hihi).

Singkat cerita ngenggg....kami tiba di Surabaya.

Kota Pahlawan, mengingatkanku tentang sosok pahlawan yang dulu pernah membersamaiku berjuang di kala itu. Tahun 2015, menjadi tahun pertama aku menginjakkan kaki di Surabaya sekaligus tahun pertama bertamu ke pulau Jawa serta tahun pertamaku naik pecawat telebang gelatis heeheehee.

Pahlawan itu tak lain adalah guruku, ntah sudah kali ke berapa aku menuliskan tentang beliau tapi tetap saja membuatku selalu bersemangat.

Oke lanjut cerita, Kota Pahlawan kembali mengingatkanku memori masa silam walau saat ini sudah berbeda tahun. Rasa semangat yang dulu pernah ada masih tetap sama malah semakin dikuatkan bersama sosok-sosok sahabat yang tak kalah bersemangat.

Kegiatan Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) yang ke XVIII diselenggaran oleh Universitas Airlangga, dimana Temilnas merupakan agenda tahunan dari FoSSEI Nasional. Singkat cerita, kami disambut hangat oleh panitia Temilnas. 

"Logat medok orang Jawa kental sekali disini" pikirku ketika salah satu panitia menyapa.
Bahkan kali pertama kami keluar dari bandara, sempat ada beberapa agent taxi menawarkan jasanya dengan amat sangat lembut dan tentu juga medok. Perasaanku yang halus tersentuh mendengarkan cara mereka menawarkan jasa taksi tersebut, karena di Sumatera (khususnya di tanah Wong Kito Galo) cukup langka mendapati hal yang demikian. Sederhana, but makes me feel like a princess. Mungkin itu sih alasan aku pernah bercita-cita dinikahin mas-mas jawa *eh sorry nyimpang gini.

Ya walaupun tutur bahasa memang dipengaruhi kebudayaan setempat, maka tak heran jika di tempat asalku dikenal lugas bahkan ada yang bilang terkesan kasar (padahal nggak lho kasar).

Malam kedatangan kami sebenarnya sudah ada agenda Technical Meeting mengenai jalannya lomba, tapi berhubung sudah malam dan mungkin sudah selesai maka langsung cap cus ke kamar Asrama. Oiya tempat penginapan kami kemaren itu di Asrama Haji Kota Surabaya.



13 April 2019.

 

Acara resmi dibuka. Pada artikel yang pernah ku tulis saat berkelana ke Kota Rafflesia yakni Temilreg. Temu Ilmiah Regional (Temilreg) merupakan agenda turunan dari Temilnas, maka acara yang digelarpun tak jauh berbeda. Sudah baca belum ceritaku yang kemarin? Kalo belom yuk diklik di bawah ini.
Kita Adalah Pemenang: Cuci Mata ke Bumi Rafflesia, Sambil Berprestasi!

14 April 2019.

 

Hari dag-dig-dug tiba. Saatnya pergelaran lomba dimulai. Kemarin saat di Temilnas ada 3 cabang lomba yang dibuka yakni Olimpiade Ekonomi Islam, Bussiness Plan, dan Simposium. Kebetulan kami (aku n the team) ikutan cabang lomba Simposium komisi 1 Wakaf Tunai. Alhamdulillah yah, berjalan lancar dengan urutan tampil terakhir :]

Sedikit cerita, setelah kami selesai presentasi seharusnya lanjut untuk agenda sidang pleno tapi maaf kakak-kakak panitia kami mau cuci mata sebentar. Maaf banget karena kami setelah selesai Temilnas langsung pulang, gak ikut fieldtrip hehe.

Jadilah kami pergi ke tugu pahlawan Kota Surabaya, tugu yang khas ada ikan Sura dan buaya itu lho.



15 April 2019.


Seminar tentang Agropreneur (Pengusaha di bidang Pertanian) dan seminar wakaf tunai. Lupa mendokumentasi bagian ini, padahal keren bangetlah pembicaranya. Ada Kak Nur Agis Aulia yang paling saya inget bercerita mengenai Model Bisnis Agro yang saat ini sukses ia geluti. Lulusan dari UGM yang terjun ke dunia pertanian dan peternakan menjadi seorang petani yang merintis usahanya dari nol. Ilmu yang diemban semsa kuliah langsung diterapkan dengan kolaborasi antara kebun dan ternak Kak Agis. Singkat cerita ia sukses menjadi Agropreneur.

Ini dia Kak Agis sosok Sarjana Muda yang memilih menjadi Petani ketimbang Karyawan BUMN.

Image result for nur agis aulia

Selain itu juga, kami selaku kader FoSSEI menggalakkan gerakan Wakaf Millenials yaitu berwakaf minimal 10 ribu perorangnya melalui aplikasi E-salaam. Keren bangetlah pokoknya (maaf tidak ada unsur sombong disini hanya berbagi cerita).


Selesai seminar, kami disuruh menunggu sampe agenda berikutnya yakni puncak acara (Gala Dinner). Padahal masih lama :(

Jiwa-jiwa wong dusun kami keluar ketika itu, karena berhubung tidak ikut fieldtrip maka kami berencana berwisata kilat. Maaf sekali lagi maaf panitia (jikalau ada yang membaca hihi).

LO (baca: el o), pemandu/pembimbing team kami sebenarnya sudah was-was jikalau kami tidak mentaati peraturan, tapi apalah daya jika keinginan untuk cuci mata di Kota Surabaya tidak terpenuhi. Walaupun demikian LO kami memaklumi hal tersebut yess.

Jadi, berhubung ini artikel sudah lumayan panjang langsung deh ke pointnya. Kami pergi ke Museum Kapal Selam. Kembali teringat memori OPSI 2015, sama-sama mengunjungi objek wisata ini juga :)

Tampak Luar Museum Kapal Selam

Menaiki tangga Museum Kapal Selam


Tampak Dalam Museum Kapal Selam


Foto Sang Kapten Laut


Berfoto di dalam kapal


Tampak Asik Memegang Stir Kemudi Kapal Hehe


Tampak Dinding Tembok Area Museum Kapal Selam


Beberapa Fasilitas Pemanis



Lalu, seusai berkeliling museum kapal selam kami sempat singgah ke toko oleh-oleh sudimampir yang katanya murah. Hanya beberapa saja yang aku beli, berhubung uang hampir habis terkuras akibat biaya perjalanan maka oleh-oleh yang dibeli pun seadanya seperti pesanan emak.

Padahal masih lama saya pulang, tapi emak bersikeras untuk menitip oleh-oleh. Katanya "Beli yang tahan lama yah", emak sudah berkata demikian satu, dua, tiga cukuplah yang pasti ada kerupuk bawang mentah yang bisa tahan lama. Selain itu, ada pula oleh-oleh untuk beberapa temen di kampus serta tak lupa pula temen kostan. Kalo duit banyak, udah dibeli banyak-banyak deh (serius ini sist bukan pelit yow). Oiya kemarin nyari toko gantungan kunci, tapi gak ketemu-temu :(

Malam Gala Dinner


Malam yang menegangkan, menggetarkan jiwa dan raga.
Kami disambut beberapa kesenian khas Jawa Timur salah satunya Reog.
Lanjut lagi penampilan dari Mahasiswa Seni di Unair.
Lanjut lagi icip-icip santai jajanan tradisional Surabaya.
Kemudian, diam, mencekam, dag-dig-dug, tertunduk berharap, pasrah (Malam Penganugrahan).
---Belum Rejeki---

16 April 2019


Hari terakhir menginjakkan kaki di tanah arek-arek Suroboyo. Seharusnya hari itu adalah hari jalan-jalan bagi peserta Temilnas, namun karena bertepatan besoknya hari Pemilu (17 April 2019) yang hanya ada 5 tahun sekali maka kami memilih pulang lebih cepat. Sedikit salam perpisahan dariku, tak banyak yang bisa diutarakan kecuali kata maaf dan terima kasih kepada Mbak Shinta Lo kami hehe. Foto ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir kita bersua di Surabaya, maafkan kami mbak baru bisa akhiran foto barengnya. Semoga di lain waktu kita bertemu di lain tempat, kalo bisa si Mbaknya dateng ke Palembang.

Ditutup dengan Kisah Manis


Area Lampu Merah di Jalan Tunjungan


 Mengakhiri cerita saya kali ini, ada satu hal unik yang ingin saya ceritakan. Jadi, kemarin kami sempat berjalan ke arah lampu merah di Jalan Tunjungan, uniknya setiap lampu merah menyala maka secara bebarengan lagu khas Surabaya melantun merdu memecah riuh suara kendaraan. Menarik sekali untuk didengarkan, bahkan dengan sengaja saya duduk diam fokus ke arah suara itu muncul.
Rek ayo rek mlaku mlaku nang Tunjungan
Rek ayo rek rame rame bebarengan
Cak ayo cak sopo gelem melu aku
Cak ayo cak nggolek kenalan cah ayu
Demikian kenangan manis dari kota Pahlawan, Surabaya. Akhir kata, penulis pamit undur diri.
Salam hangat buat mantan *eh kamu maksudnya :D











Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel