Puisi Tanpa Judul

Kursi tua

Pict by Fiersa Besari


Puisi Tanpa Judul #1


Aku benci rasa yang tak terdefenisi,
Tiba-tiba hadir,
Sangat mudah terpapar rasa,
Kemudian terbelenggu di dalam pikiran,

Semoga kamu tak tau rasa ini,
Aku takut jikalau terbongkar,
Kalau-kalau dirimu tak lagi menyapa,
Berusaha berhenti lalu menghilang,

Sulit mengusir setiap bayang-bayang yang muncul,
Bak hantu yang bergentayangan itulah kamu,

Aku berusaha menepis ingatan tentangmu,
Semakin ku singkirkan semakin ia menjadi,

Dirimu seolah-olah bersikap santai,
Seperti tak ada yang terjadi,
Mungkin aku yang terlalu rapuh,
Rapuh dengan setiap rasa yang hadir,

Akhir-akhir ini semua tulisanku serasa mati,
Mati rasa,
Mati untuk menikmati kebebasan,
Tulisan yang hadirpun menjelma tentangmu,
Bersayap putih lalu berkuda emas dirimu menyapaku,
Oh tidak kataku, ini pertanda buruk ketika kau berusaha menyapa,

Tidak mungkin jikalau aku bersikap acuh tak acuh bukan?
Lalu siapakah yang salah?
Aku yang menyambutmu atau kamu yang menyapaku?

Diam sejenak bersama pikiran dan perasaan,
Menelaah setiap bait kata yang muncul pada ketikan kali ini.

Jangan-jangan aku sedang.....?

Ah coba tebak sendiri!

Tentangmu selalu saja menarik perhatianku,
Hei kalau kamu tau disini aku diam-diam memantaumu,
Jika dilirik, siapalah aku ini,
Kamu adalah bintang laut yang memesona,
Sedangkan aku butiran pasir di laut yang tak berharga,

Andai aku dengan mudahnya berkata sudahi cerita ini, maka takkan ada hariku yang gelisah karna bayangmu,

Kamu hadir memecah heningku,

Di bawah sinar lampu semu meremang-remang,
Aku katakan cukuplah diam menikmati renyah puisimu,
Iya kali ini aku menemukan sisi manismu, bersamaan puisi yang kadang menggetarkan emosi,
Dan kadang menari di atas tawa.

Aku dan puisiku, beralibi bukan tentangmu.

Penghujung Mei 2019

Tertanda Aku
๐Ÿ™ƒ๐Ÿ™ƒ

Ini puisi apa cerita sih, jadi bingung wkwk
Moon maap yg nulis lagi emosi๐Ÿ˜

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel