Suatu Ketika di Umurmu yang ke Dua Puluh

Jalan

Suatu ketika di tahun 2019

Aku tidak tau kenapa tahun ini banyak sekali menyimpan tanda tanya. Perihal umur yang genap 20 tahun, umur yang tak kanak-kanak lagi tentunya. Temanku yang mendahului ke angka 20 pun tampaknya banyak perubahan di dirinya. Tanda tanya aku suguhkan padanya, ya kepada temanku.
"Bagaimana pagimu di umur 20 tahun?" "Ada sensasi beda nggak sekarang setelah menginjak kepala dua?"

Jawaban yang temanku berikan masih menyisakan potongan-potongan pertanyaan yang masih minta dipertanyakan. Katanya sih rasanya biasa aja, cuman ada sensasi yang berbeda seperti ada tuntutan dari dalam. Ntah apakah itu. Seiring dengan berjalannya waktu, hingga aku pun benar-benar ikut menginjakkan kaki di umur 20, persoalan tuntutan dari dalam itu seperti mendorongku.

Hei kamu sudah 20 tahun, batinku mencerna. Apa artinya umur segitu? Pikiranku merajalela.

"Ciee udah kepala dua aja nih buk" Temanku berkicau di Whtsapp. Apalah arti umur dua puluh, jika aku masih begini-begini saja.

Perlahan namun pasti, aku benar-benar merasakan sensasi itu. Sensasi yang temanku ucapkan sewaktu dulu. Misalnya saja topik perbincangan saat kumpul-kumpul, dulu sewaktu belas-belasan paling kami bercerita persoalan remeh temeh, persoalan sinetron yang tak berkesudahan, tentang game harvest moon, tentang siapa yang kentut sembarangan, guyonan garing, dan tentang hal remeh lainnya. Dulu topik masa depan hanya selingan saja, tidak ada rasa serius dalam pembicaraan, hanya lontaran beberapa kalimat yang diucapkan.

People

Berbanding terbalik, saat aku menginjak umur 20 ada sensasi tersendiri seperti dorongan yah ini wajar. Perihal masa depan tak pernah absen saat kumpul-kumpul sesama teman, termasuk teman laki-laki pun ikut serta. Misalnya perihal rencana sesudah wisuda, ada yang berencana kerja dua tahun terus nikah, ada pula yang kerja dua tahun terus sambung kuliah S2, ada yang ingin langsung S2, bahkan ada yang ingin langsung nikah dan rencana-rencana lainnya. Tidak berhenti di topik itu saja, bahkan lebih serius lagi misalnya perihal ikhwan yang jatuh hati kepada seorang akhwat, yang menjaga hatinya dan pandangannya, atau persoalan seorang wanita yang menunggu-nunggu, tentang bagaimana caranya ta'aruf, hingga khitbah. Yah bagiku ini topik yang berat. Tapi, dorongan tetap saja ada seperti ada sensasi "wah ini topik yang menarik". Aneh memang rasanya.

Di rumah pun sensasi itu seperti mengekoriku. Misalnya emak yang jarang bahkan mungkin hanya sekali setahun bercerita soal 'sensasi' itu, sekarang rasanya setiap aku pulang mamak selalu berpesan "belajar yang benar, jangan pacar-pacaran, lulus sampe wisuda, terus kerja, baru cari jodoh" Ahh gila pikirku, ini kenapa ada sensasi umur 20an di rumahku😞😔

Ketika tetanggaku, anak dari teman bapakku, adik kelasku menikah, aku dicecar dengan kalimat-kalimat guyonan tapi rasanya itu serius. Misalnya, "itu si A nikah dijodohin lho sama bapaknya, calon suaminya alim, orang baik-baik gitu, bapaknya ketemu di komunitas XXX. Te-O-Pe deh." Kata bapak, terus disambung sambil bercanda "Kalo mau, bapak juga banyak nih kenalan". Whattt ini level bercandanya ketinggian atuh bapak. Ya, aku hanya ketawa garing hahaha.

'Sensasi' itu benar-benar meresahkan sekali.

Pernah saat aku melihat cermin, mencari-cari sosok umur 20 tahun itu. Tapi, yang ku temukan dan yang ku lihat rasanya ini hanya bocah SMA yang terlalu cepat masuk kuliah. Aku belum siap menjalani 'sensasi' gila berkepala dua.

Kemudian, kisah virus pink (fall in love) yang hinggap di umur belasan tentu jauh berbeda dengan umur kepala dua. Pas masa belasan, virus-virus itu hanya datang layaknya virus pada umumnya. Persis virus pada saat flu, datangnya karna tertular dan singgahnya sebentar. Lain halnya ketika virus pink ini hinggap di umur kepala dua, rasanya seperti virus pada penyakit serius. Sulit untuk didefinisikan dan obatnya langka. Intinya, ketika umur 20an perlu kudu antisipasi sama virus pink tersebut. Obatnya hanya satu yakni bangun RT (u knowlah what i mean). Jadi, di umur 20 perihal virus pink aku perlu membangun benteng lebih kokoh lagi, jangan sampai mengidap virus itu. Aku takut jika virus pink itu datang di saat yang tidak tepat, bahaya!

Nano-nano rasanya.

Aku pun kadang merasa tidak ada waktu untuk main-main lagi, harus serius. Dan tentang rohani pun turut mengguncang diri, seperti rasanya hidup ini sebentar, bisa jadi esok pagi sudah berpindah alam. Persiapan apa yang sudah aku lakukan? sensasi itu pula yang membuatku harus lebih bersiap diri, ada lecutan-lecutan dalam diri untuk segera berkemas menyiapkan ini dan itu. Kenapa sensasi itu mencuat kala diri ini berkepala dua ? Selama ini aku tersesat dimana, bekal menuju kampung halaman yang sesungguhnya masih sedikit :(

So, apakah sensasi umur 20an adalah hal yang alamiah? Apakah ini proses menuju pendewasaan diri? Mari renungkan sejenak🙂


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel