Kutuliskan Sebuah Surat Untukmu

senja
Kamu (Ilustrasi by pixabay)

Kutuliskan sebuah surat untukmu, meski hanya sekedar kutuliskan bukan kusampaikan.

Bacalah dengan perlahan, itupun jika kau tau bahwa yang kutulis merupakan surat untukmu.

Pertama, terima kasih.

Aku banyak mengucapkan terima kasih untukmu yang telah rela menyediakan ruang cerita untukku. Ruangan itu kuakui sangat sederhana, tapi hangat sekali seperti pelukan ibu.

Kepadamu aku dengan mudahnya bercerita. Keluh kesah yang berlarian di kepala akhirnya tumpah ruah di ruang ceritamu. Kau menyambutnya tanpa pernah menolaknya, seraya bertanya kenapa, ada apa, dan mengapa.

Kepadamu pula aku menjadi diriku, diriku yang riang tanpa senyum palsu. Kau salah satu sumber bahagiaku, semangatku. Terima kasih.

Kedua, tolong.

Perlahan kau tidak lagi menjadi sosok teman, melainkan menjelma seorang sahabat. Kemudian, pikiranku mulai tak selaras dengan perasaanku. Tak sekedar sahabat, aku telah menganggapmu lebih dari sekadar itu. Tolong, bisakah kita seperti dulu? Sebelum pikiran dan perasaan mulai tak selaras, bisakah?

Mungkin tanpa kusadari cerita yang kita bangun bersama sudah terlampau jauh, lebih sering meminta hingga menjadi candu. Bukankah tidak baik sesuatu yang berlebihan? Maka tolong, kita harus sama-sama sadar dan mengurangi kadar, interaksi.

Ketiga, maaf.

Walau kau salah satu sumber bahagiaku, kau juga sumber kesedihanku. Padahal aku yang menginginkan kita berjauhan, lebih tepatnya aku yang ingin menjauh. Namun, taukah kamu bahwa aku telah candu? Tentu kau mana tau soal itu. Maaf atas perasaan yang hadir. Aku tau rasaku ini salah, tapi maaf bolehkah aku menyimpannya hingga kau menjadi sepasang? Walau bukan bersamaku. Maaf, aku terlalu keras kepala untuk tidak membencimu. Bagaimana tidak keras kepala, setelah kusadar kau memang orang yang baik. Aku yang salah menafsirkan kebaikanmu itu, hingga aku secara sepihak menumbuhkan rasa. Maukan memaafkanku?

Terima kasih ya atas segala ruang yang telah diberikan, tapi tolong pergilah secara perlahan agar aku tak kecanduan.

Dari Puan kepada Tuan si pemilik senyum sederhana, pendengar setia, dan penikmat senja.
Akhir Agustus 2019.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel