Aku Resah! Tentang Secuil Irisan Hati yang Terpotong


Aku resah melihatmu berkeliaran di lini masa hidupku,
Ntah itu di ruang maya atau ruang nyata,
Jejak-jejakmu masih kulihat.

Aku resah.

Dibalik punggung yang kokoh itu, kuingin menghujamnya dengan rindu,
Kubuang semuanya pada punggung yang kokoh itu,
Tolong, aku tak sekuat prajurit perang,
Aku masih lemah akan tipumu.

Kau bilang, "Lelaki tak pernah sadar akan kebaikannya sendiri, wanita saja yang lemah dan mudah tersentuh".

Tidak ingatkah kau pada penciptaan hawa? Kurasa kau tau itu.

Kami lemah, lebih tepatnya aku lemah.

Enak betul lelaki, tebar sana tebar sini.
Kau yang biasa, kami yang me-rasa.

Di lintasan kereta, rasanya ingin sekali aku mendorongmu, kemudian jatuh dan digilas habis kau.

Di tepian jurang, rasanya ingin sekali aku mendorongmu, kemudian jatuh dan hilang tak berbekas kau.

Namun, sejahat-jahatnya pemikiran ini masih kalah dengan sapaanmu. Gila, pikirku! Ini perasaan keras sekali untuk diajak kompromi.

Aku berusaha menahan diri sekuat mungkin agar rasa yang terpendam, tidak tercium oleh indramu yang bahkan tidak peka sama sekali.

Beruntung pula lelaki tidak peka, kau bisa sepuasnya goda sana-sini tanpa terpaut rasa.

Dariku untukmu, si lelaki santuy!
September Ceria🙂

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel