2019/01/31

Tak Terlupakan! Pertama Kali Keluar dari Zona Nyaman


Punya pengalaman tak terlupakan?
Saya juga. Jatuh bangun saya manjalani hidup ini, banyak pergolakan di dalam diri saya ini. Hingga suatu ketika seorang guru memotivasi siswanya untuk membenahi diri agar tidak terlalu nyaman dengan zona ena-enak.

Tepat SMA, pertama kali saya melakukan penelitian dan menyusun sebuah karya ilmiah. Dibimbing dengan master di bidang sosial, guruku tampil keren dihadapan siswanya. Tugas untuk memenuhi mata pelajaran penelitian sosial, tak kusangka dapat lebih dari sekedar tugas. Sedikit kurang percaya diri, saya ikut sertkan karya pertama saya itu ke dalam Lomba kepenulisan. Allah berkata lain, ketika hatiku tak berharap lolos dan ternyata Allah memberikan lebih.

Bingung, kala itu.

Saya yang tak pandai berbicara di depan orang banyak, diharuskan untuk melakukan presentasi dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Nasional di Surabaya kampus UNAIR. Berlatihlah saya, bersama pembimbing yang sangat sabar menghadapi seorang introvert takut ngomong seperti saya ini. Rutin setiap minggu saya latihan, banyak koreksi sana-sini, bahkan hampir di setiap selesai latihan saya selalu menangis, mengeluh karena tak pandai menjawab pertanyaan beliau. Tidak hanya itu, gaya presentasi saya turut dikomentar bahwa saya seperti mendongeng bukan presentasi.
Banyak pelajaran yang saya peroleh dari skenario yang Allah susun tersebut. Saya merasa sangat beruntung bertemu dengan Pak Tino (guru Sosiologi saya) selalu memotivasi saya untuk terus maju.
Hingga tibalah hari pelaksanaan.

Pertama kali saya naik kapal terbang (baca:pesawat) ujar orang kampung semacam saya. Oiya dulu lomba ini bertepatan saat maraknya kabut asap di Palembang. Beberapa pesawat di delay, termasuk pesawat yang kami tumpangi. Tidak apalah menunggu lama yang penting saya selamat sampai tujuan.

Kala itu, saya juga dituntut untuk menjadi seorang sales karena sistem lomba kami mirip seperti orang menawarkan produk di stand (bazar).

Pak Tino benar, ketika saya keluar dari zona nyaman dan bertemu banyak orang membuat saya kagum serta terkesima bahwa yang saya tahu hanya sebagian kecil dari keseluruhan yang mereka pelajari terutama siswa dari Pulau Jawa.

Stand tempat saya menampilkan poster bersebelahan dengan orang jogja dan satunya lagi orang kupang. Sama-sama beragama Katolik, sedangkan saya Islam. Dulu saya sempat disangka keturunan cina karena mata yang sipit ini hehe. Sakit sih ketika saya mengambil mukena dan ingin beranjak menunaikan ibadah, teman saya yang jogja itu malah heran dan malah menunjuk seraya mengisyaratkan "Kamu Islam?".

Ada pengalaman pahit juga ketika saya mengikuti ajang tersebut. Tanpa pikir panjang sebulan sepulang lomba saya langsung mengenakan hijab. Alhamdulillah semoga istiqomah sampe ajal menjemput.
Begitu panjang dan kompleks pengalaman saat itu, tak terlupakan.

Tertanda,
Dari seorang murid yang ketika ditanya "Mau Makan Apa?" Malah melemparkan senyum😊

Review Buku Tuhan Tidak Pernah Iseng


Judul Buku      : Tuhan Tidak Pernah Iseng
Penulis              : Zemarey Al-Bakhin
Penerbit            : Madania Prima
Tahun Terbit    : 2007
Tebal Buku       : 209 halaman
Jenis Buku        : Autobiografi
Harga                : Rp50.000

Hallo sobat Kuskus☺

Kali ini, Kuskus Pintar akan menyajikan sebuah artikel book review.

Buku yang berjudul Tuhan Tidak Pernah Iseng (TTPI) pernah saya baca sewaktu duduk di bangku SMA. Kenapa saya mau review buku tersebut? Tak lain dan tak bukan, karena buku tersebut sarat akan nilai-nilai kehidupan.

Penulis menceritakan tentang kisah hidupnya secara gamblang di buku tersebut. Ya benar ini adalah kisah nyata. Sebuah kisah yang menceritakan tentang kecenderungan orientasi seksu*l yang menyimpang. Selama 25 tahun Zemarey Al-Bakhin terjebak di dunia ‘abu-abu’. Kehidupan homoseksual yang mulai merajalela di Indonesia menguatkan keinginan Zemarey untuk berbagi kisah hidupnya yang berupaya keluar dari dunia gay.

Rey sudah sejak awal lahir disebut mirip perempuan. Ketika lahir dengan bulu mata yang lentik, berkulit putih membuat keluarganya seketika menebak bayi yang lahir tersebut perempuan. Namun, ketika melihat alat vitalnya Rey adalah laki-laki. Lantas keluarganya tertawa. Salah satu contoh dimana kesalahpahaman dari awal Rey lahir telah menanamkan bibit Gay.

Kata-kata bahwa Rey mirip perempuan berlanjut ke bangku sekolah. Selagi SMP, Rey tumbuh menjadi laki-laki yang ketika dia berjalan pasti orang mengiranya perempuan. Rey begitu cantik, pikir orang yang melihatnya. Ejekan demi ejekan masuk ke telinga Rey sehingga ia menanggung rasa malu.

Ketika saya membaca buku ini, serasa terketuk pintu hati saya. Selama ini apakah kita juga ikut-ikutan mengolok-olok teman laki-laki yang bergaya mirip perempuan? Ayo kawan, berhenti untuk memanggil teman kita dengan julukan yang tak sesuai kodratnya. Seperti kata-kata cantik, uhuy gemulai, liat-liat dia berlenggak-lenggok, atau mami, menggoda dengan kata cyinn, dan masih banyak lagi. Ayo berhenti, saya ketika mendengar sebutan yang tak pantas itu rasanya sedih sekali, walau hanya bergurau marilah untuk tidak menjuluki dengan sebutan tersebut.

Buku ini banyak mengajarkan kisah kehidupan. Dimana Rey menuliskan perjalanan hidupnya dengan cukup baik. Berbeda dengan buku atau novel lain yang bertema sama. Rey sangat bijak dalam menyikapi homoseksualitas karena ia tidak menyalahkan Tuhan.

Benar, Tuhan tidak pernah iseng. Walaupun Rey menjalani kehidupan yang menyimpang ia tidak menyalahkan tuhan, melainkan perlakuan negatif orang di sekitarnya yang sangat jelas mengolok-olokkan.

Perang batin antara menuruti cinta terhadap sesama lelaki atau cinta terhadap Tuhan ditulis dengan lugas, pembaca pun dapat merasakan pergolakan yang terjadi di hati Rey.

TTPI ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, Rey mampu menulis kisah yang terasa hidup dan nyata. Hanya saja bagi pembaca yang belum terbiasa dengan cerita kehidupan homoseksual akan merasa bahwa tindakan itu adalah hal yang tidak sesuai dengan nilai ketimuran yang berlaku di Indonesia.

Selain itu penggunaan bahasa daerah Sunda dalam percakapan tentu membingungkan pembaca yang bukan berasal dari suku Sunda. Namun, unsur interferensi bahasa inilah yang menguatkan latar budaya Rey.

Buku Tuhan Tidak Pernah Iseng disarankan bagi orang yang mengalami orientasi seksual menyimpang dan ingin berubah menjadi manusia pada umumnya.

Allah Tidak Pernah Iseng Menciptakan Makhluknya, karena sejatinya manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna.

Tentang Kamu, Hobi yang Paling Disukai

Tentang hobby yang paling disukai☺


Indralaya, 30 Januari 2019. Hari ini izinkan saya bercerita sepatah tiga kata, atau lima ratus kata. Tak banyak.

Ini tentang kamu, My Hobby.
Tak pernah saya sadari bahwa sejak dulu saya menyukai ia. Dulu selagi kecil saya sangat menyukai puisi lama yakni pantun. Saya ingat betul selagi SD sering mengumpulkan berbagai macam pantun dari berbagai buku.

Tidak hanya itu, puisi bertema nasionalis turut menjadi koleksi di buku bergambarkan artis yang dulu saya miliki. Warna bukunya biru, ntah foto artis mana yang tertempel di buku khusus koleksiku itu. Oiya sedikit informasi, kalau di jaman saya SD buku-buku yang populer adalah buku dengan cover artis seperti Nia Ramadani, Baim Wong dan lain-lain.


Menarik bukan?


Lanjut dengan cerita tentang hobi saya. Saya tidak tahu bahwa mengumpulkan sastra tersebut ke dalam buku adalah sebuah hobi. Saya sekedar suka dan rasanya menyenangkan. Setelah beranjak SMA saya mulai menyadari bahwa hobi saya adalah menulis. Menulis apa saja. Bahkan sekedar membuat status ala-ala motivator membuat saya senang, atau sekedar menulis di dinding kamar itupun menyenangkan.

Sadar ketika saya jatuh cinta dengan menulis ketika mengerjakan tugas Sosiologi pada materi penelitian sosial.
Penuh semangat saya mengerjakan tugas tersebut yakni meneliti kasus sosial di masyarakat. Mengobservasi, lalu wawancara dan kemudian dituangkan hingga menjadi sebuah tulisan. Menyenangkan sekaligus menenangkan. Walaupun sesekali saya pernah merasa buntu ide, atau malas menulis, itu semua bumbu-bumbu menyelesaikan sebuah karya.

Specially, kepada guru saya Bapak Sutino terima kasih karena dengan tugas yang bapak berikan dapat membuka mata hati saya, bahwa sesungguhnya saya jatuh hati dengan menulis. Untuk kamu hobiku, jangan lelah mengisi hari-hariku.

Penuh Cinta,

Reskia Ekasari

Review Film Candy Jar: Prestasi Boleh tapi Jangan Lupa Bahagia

Candy Jar
Sumber: wikipedia

Candy Jar adalah sebuah film bergenre drama komedi Amerika yang rilis pada tahun 2018. Film ini bercerita tentang duo juara debat sekolah menengah yang berusaha mewujudkan rencana mereka untuk masuk perguruan tinggi favorit impian mereka. Berikut ini adalah para pemera film Candy Jar:

•    Sami Gayle as Lona Skinner
•    Jacob Latimore as Bennett Russell
•    Christina Hendricks as Amy Skinner, Lona's mom who despises Julia.
•    Uzo Aduba as Julia Russell, a successful state senator and Bennet's mom.
•    Tom Bergeron as Principal Nelson
•    Helen Hunt as Kathy, a school counselor and confidant to Lona and Bennett
•    Paul Tigue as Mr. Johnson
•    Shell Galloway as Brett
•    Austin Flynn as Twin Taylor
•    Blake Flynn as Twin Tanner
•    Evan Castelloe as Zack

Saya sebagai penikmat film Hollywood merasa terhibur sekaligur termotivasi setelah menonton film Candy Jar. Alur cerita yang asik dengan dibumbui hiburan komedi yang berkelas ini membuat saya tak henti-hentinya  merasa terkesima.

Biasanya anak usia SMA menghabiskan waktu dengan bermain bola, bercanda ria, jalan-jalan, dan hal lazim lainnya. Tidak untuk Lona dan Bennett. Mereka berdua berusaha keras belajar untuk menjadi siswa yang pintar dan dapat memenangkan perlombaan debat antar negara bagian. Dan, setelah lulus SMA, Lona sangat menginginkan masuk Harvard University sedangkan Bennett memilih Yale University sebagai cita-cita pendidikan selanjutnya. Dua universitas tersohor di jagat Hollywood itulah yang membuat mereka sangat ambisius dan saling bersaing.

Dalam perlombaan debat yang digambarkan pada film tersebut sangat berbeda dengan lomba debat yang ada di Indonesia. Perdebatan dalam cerita film ini adalah, peserta berdebat dengan tempo yang sangat amat cepat sambil membaca teks apa yang mereka tulis. Peserta lomba harus mengikuti aturan yang hanya memberikan waktu 8 menit dalam setiap debat yang ingin mereka sampaikan.

Lona dan Bennett memiliki seorang pembimbing yang selalu memotivasi mereka berdua dan bahkan lebih dari sekedar guru yang membimbing, yakni Kathy. Ruangan Kathy yang dipenuhi permen yang lucu-lucu serta manis menjadi bagian menarik untuk disoroti, bahkan judul film ini pun diambil dari karakter Kathy dan ruangannya tersebut.

Ibu dari Lona dan Bennett adalah dua orang teman SMA yang sama-sama saling bersaing, mungkin darah persaingan ibu mereka menurun. Lona yang memiliki status sosial yang berbeda dari Bennett lebih berjuang keras untuk membiaya sekolahnya sekaligus mencari beasiswa untuk menggapai Universitas impian Lona. Sedangkan Bannett sebenarnya sangat dengan mudah dapat meraih hal tersebut. Tapi, lagi-lagi Bennett ingin berjuang keras untuk mencapai impiannya.

Film ini sangat saya rekomendasikan kepada teman-teman
yang terlalu ambisius menggapai mimpi sehingga lupa akan komunikasi. Saya pun tertampar dengan film ini, tak lain saya juga manusia yang sangat ambisius dalam menggapai cita ya walaupun banyak magernya haha.

Inti dari cerita Candy Jar adalah penting bagi kita untuk menyeimbangkan kehidupan sosial anak remaja dan cita-cita. Bahwa terkadang, anak-anak yang terlalu berambisi atas sesuatu yang ingin mereka capai justru membuat mereka lupa dengan sesuatu yang disebut human connection atau hubungan dengan manusia lain. Biasanya anak-anak seperti ini hanya berkutat dengan buku dan hal-hal yang bisa memberi jalan kepada tujuan mereka.

So, nikmatin masa SMA mu yah. Saya sudah melewatinya bahkan menyesal sekali untuk tidak menikmatinya secara happy.

Beberapa cuplikan dialog film ini menyentuh kita, seperti:


"Wherever you end up, kiddo, have fun.” Kathy

"Sometimes we lose.” Bennett.


Cerita Candy Jar ditutup dengan sedikit mengharukan. Bahkan saya terkesima dengan keberanian tim debat dari sekolah Washington High yakni Jasmine Spencer (Antonia Gentry) dan Dana Martinez (Ariana Guerra). Mereka beruda berasal dari sekolah dan keluarga yang biasa saja tetapi dengan berani mengubah gaya berlomba yang seharusnya dengan ritme cepat malah mereka berdebat dengan sangat santai dan berdasarkan pengalaman mereka. Dengan tempo bicara yang biasa saja mereka tak peduli dengan kekalahan debat yang mereka dapatkan. Alhasil mereka berdua membuat pikiran Lona dan Bennett terbuka. Kemudian, di depan para juri dan penonton, Bennett mengatakan:

"Mereka (Jasmine dan Dana) melakukan itu selama setahun, tapi tak seperti kami (Bennett dan Lona). Karena mereka tak fokus pada tekanan untuk menang, tapi memilih yang lebih penting, berkomunikasi.”

Jadi, berbicara santai sesuai jalannya waktu yang alami untuk mengungkapkan hal yang penting untuk disampaikan adalah lebih baik daripada berbicara cepat mengikuti tempo yang ditentukan namun justru tak mampu menyampaikan apapun pada orang lain. Santai namun pasti.
Jadi apakah kalian tertarik menyaksikan Candy Jar?

2019/01/30

2019? Pengen Beli Ini....

Hallo sobat Kuskus😘


Wishlist Belanjaan Tahun 2019
Pada kesempatan kali ini saya akan mengisi artikel dengan konten yang receh. Sebenarnya tidak perlu ditulis, ya siapa sih yang mau baca hehe. Artikel ini dibuat untuk mengikuti challenge ngeblog di awal tahun. Tenang hari ini terakhir kok.

Belanja. Belanja berarti suatu tindakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam Ekonomi sering disandingkan dengan Y sebagai pendapatan dan S sebagai tabungan. Sedangkan konsumsi adalah C. Y=C+S. Tentu model yang paling ideal jika pendapatan dapat dibelanjakan sekaligus masuk di dalam tabungan. Lantas bagaimana jika terlalu banyak belanja atau konsumsi? Bokek bro wkwk. Maksudnya kita tidak memiliki investasi untuk masa depan, siapa tahu ada keperluan mendesak.

Saran saya pandai-pandailah mengatur laju pengeluaran ya. Saya sebagai anak kost yang masih bergantung pada orangtua dan dana beasiswa, perlu me-manage dan mengklasifikasi mana yang menjadi prioritas atau bisa ditunda dulu. Keperluan sehari-hari menjadi biaya rutin yang dikeluarkan, jika lebih bisa dimasukkan ke dalam tabungan.

Sebenarnya saya tidak ada list belanja khusus untuk dibeli di tahun 2019. Mungkin bisa dibilang sesuatu yang "pengen dibeli" bukan suatu kebutuhan rutin.
Apa saja sesuatu yang pengen saya beli?
Cekidot...

1. Novel

Dari tahun ke tahun saya selalu pengen untuk membeli novel. Dari tahun ke tahun juga saya tak mewujudkannya. Banyak hal yang lebih menjadi prioritas saya seperti buku untuk kuliah. Mungkin karena saya penikmat seni secara visual, maka membaca sinopsis dan melihat cover saja sudah menjadi kepuasan tersendiri. Sejak pertengahan 2018 saya selalu mengincar satu buku yang bikin penasaran setengah tahun yakni karya Bang Muhidin M. Dahlan. Karyanya yang kontroversial itu selalu membayang-bayangiku, semoga kesampaian deh hehe.

2. Cartridge

Wishlist yang satu ini juga termasuk penting untuk dibeli. Sayang printer yang dulu dibeli saat SMA menganggur gara-gara cartridgenya beku. Berbagai macam cara pernah say usahakan, mulai dari menghangatkannya, dielus-elus pakai tisu, diisikan tintanya, tetap saja beku alias tidak berfungsi. Memang sudah masanya untuk diganti. Setelah membangkai hampir 2 tahun, semoga saja 2019 saya akan menghidupkannya kembali dengan membeli cartridge baru horee.

3. Masker

Perempuan tetaplah perempuan, tidak ada yang bisa mengubah takdir. Kalaupun bisa melalui cara yang tidak baik, sejatinya gender yang Allah kenal adalah gender yang dari lahir kamu miliki. Saya perempuan, wanita, cewek, calon tulang rusuknya kamu (abaikan). Orang mengenal saya sebagai perempuan anti dengan aktivitas mempercantik diri. Dalam artian menghindar alat-alat perawatan perempuan. Jujur, setomboi-tomoinya perempuan masih ada sisi feminim yang ia miliki.

Memang secara keseharian saya tampil natural tak berlipstik dan tak berbedak, tapi untuk yang satu ini (read: masker) paling asik untuk dipakai. Masker wajah yah, bukan masker ala wibu-wibu. Kegiatan bermaskeran adalah kegiatan untuk merehatkan sejenak pikiran, menikmati aroma masker yang merelaksasi diri. Itulah mengapa saya senang, selain untuk membasmi komedo dan jerawat masker mampu menjadi alat untuk merelaksasi diri.

4. Domain promo akhir tahun

Nomor 4 ini selalu diburu oleh para blogger di akhir tahun. Berbagai macam penawaran promo diberikan oleh penyedia hosting dan domain di akhir tahun. Semoga di akhir tahun 2019 saya dapat berburu domain (dot)com, domain sejuta users bahkan lebih hehe.

5. Headset dan Flashdisk

Terakhir! Headset dan flashdisk sepasang benda yang hilang di tahun 2018. Flashdisk yang hilang secara tidak sengaja, karena kesalahan komunikasi. Teman saya mengira saya yang bawa, eh saya malah mengira dia yang bawa. Hilang lah sudah flashdisk yang selalu menemani dari SMA hingga beranjak kuliah. Oiya, setelah kehilangannya saya pernah mengganti yang baru tapi sayang hanya bertahan satu bulan yang baru juga ikut hilang. Sama halnya dengan flashdisk, headset saya juga hilang. Rasanya headset itu hilang karena dipinjam tapi saya lupa siapa yang pinjam dan mungkin si peminjam lupa itu milik siapa (sedih). Semoga secepatnya saya bisa membeli yang baru lagi.

Bantu doanya ya para readers, bantu untuk membeli juga boleh hehe.
Terima kasih, yuk berkomentar.